Kawah Ijen: Fenomena Blue Fire dan danau asam.
Kawah Wurung: Savana hijau melingkar ala Selandia Baru.
Puncak Megasari: Spot terbaik melihat kaldera dari atas awan.
Hutan Mati Ijen: Ranting pohon kering yang artistik dan dramatis.
Gunung Raung: Jalur pendakian terekstrem dengan jembatan sirotol mustaqim.
Gunung Suket: Puncak sunyi dengan vegetasi pegunungan yang rapat.
Puncak Asmoro: Bukit pandang sunrise menghadap Selat Bali.
Kawah Ilalang: Padang rumput liar di lereng gunung.
Puncak Telunjuk Raung: Mata air jernih di bawah tebing.
Gunung Merapi (Banyuwangi): Puncak sebelah Ijen yang jarang didaki.
Puncak Seblang: Panorama 360 derajat kota dan laut.
Bukit Mondoleko: Hutan pinus dengan udara yang sangat sejuk.
Gunung Rante: Spot camping favorit bagi pemburu bintang (Milky Way).
Puncak Jampit: Area perkebunan kopi di dataran tinggi yang dingin.
Bukit Sewu Sambang: Perpaduan pemandangan hutan dan selat.
Air Terjun Lider: Tersembunyi di rimbunnya hutan lindung.
Air Terjun Jagir: Aliran air dari sumber tanah yang jatuh ke tebing.
Air Terjun Kampung Anyar: Tiga aliran air yang bertemu di satu kolam.
Air Terjun Telunjuk Dewa Raung: Bentuk alirannya lurus dan tajam.
Air Terjun Pertemon: Jalur trekking menyusuri sungai yang seru.
Air Terjun Kali Pait: Unik karena airnya pahit dan mengandung sulfur.
Air Terjun Coklak: Dinding batu berwarna-warni secara alami.
Air Terjun Selogiri: Tenang dan jauh dari keramaian.
Air Terjun Twin (Kembar): Kolam alami yang cukup dalam untuk berenang.
Air Terjun Tirto Kemanten: Dua air terjun yang seolah berpasangan.
Air Terjun Legomoro: Tersembunyi di balik barisan hutan pinus.
Air Terjun Temcor: Aliran air yang muncul di tengah sawah.
Air Terjun Bayu Lor: Suasana mistis namun indah dengan lumut hijau.
Air Terjun Giri Asih: Belum banyak terjamah oleh wisatawan umum.
Air Terjun Kedung Angin: Airnya berwarna hijau toska saat terkena matahari.
Savana Bekol (Baluran): Padang rumput ikonik dengan satwa liar.
Savana Sadengan (Alas Purwo): Menara pandang untuk melihat Banteng Jawa.
Hutan Kerangas (Baluran): Ekosistem unik tanah gersang.
Evergreen Forest (Baluran): Hutan yang selalu hijau meski musim kemarau.
Hutan Bambu (Alas Purwo): Lorong bambu alami yang sangat panjang.
Hutan Trembesi De Djawatan: Pohon-pohon raksasa berlapis pakis.
Hutan Mangrove Bedul: Menyusuri rawa bakau dengan perahu tradisional.
Hutan Pinus Songgon: Cocok untuk hammocking dan relaksasi.
Perkebunan Kali Bendo: Area perkebunan yang sejuk dan asri.
Sukamade Jungle: Jalur off-road menembus rimba belantara.
Puncak Biru: Titik pandang pagi hari di tengah kebun kopi.
Lembah Ijen: Sawah berundak di kaki gunung yang mirip Ubud.
Padang Rumput Malangsari: Bukit-bukit hijau yang lembut.
Hutan Pinus Camp: Lokasi berkemah dengan fasilitas alam murni.
Situs Kalipait Bawah: Endapan sulfur yang membentuk sungai batu.
Pulau Tabuhan: Pasir putih kristal dan air yang sangat bening.
Pulau Menjangan: Taman nasional bawah laut kelas dunia.
Teluk Hijau (Green Bay): Air berwarna hijau emerald yang tersembunyi.
Pantai Wedi Ireng: Dua warna pasir dalam satu garis pantai.
Pulau Bedil: Laguna tenang di tengah laut selatan.
Pulau Green & Kemuning: Gugusan pulau karang (Raja Ampat van Java).
Pantai Pulau Merah: Sunset paling ikonik di Banyuwangi.
Pantai Plengkung (G-Land): Kiblat para peselancar dunia.
Pantai Sukamade: Tempat penyu hijau mendarat untuk bertelur.
Pantai Bangsring: Konservasi terumbu karang dan rumah apung.
Pantai Grand Watudodol: Gerbang laut menuju pulau-pulau kecil.
Pantai Cacalan: Menikmati sunrise sambil naik kano.
Pantai Solong: Pantai dengan hamparan rumput hijau yang luas.
Pantai Rajegwesi: Pasir cokelat kemerahan dari endapan mineral.
Pantai Cemara: Barisan ribuan pohon cemara yang meneduhkan.
Pantai Parang Kursi: Batuan karang berbentuk unik diterjang ombak.
Pantai Grajagan: Kombinasi pantai luas dan perbukitan tinggi.
Pantai Lampon: Tebing tinggi dengan gua-gua pengintai alami.
Pantai Mustika: Pasir putih bersih dan tenang.
Pantai Teluk Biru: Spot snorkeling yang sangat sunyi dan jernih.
Pantai Batu: Seluruh pesisir tertutup batu, tanpa pasir.
Pantai Pancur: Aliran air tawar yang jatuh ke bibir pantai.
Pantai Ngagelan: Pesisir panjang tak berujung yang sangat tenang.
Pantai Trianggulasi: Pantai pasir putih paling murni di Alas Purwo.
Pantai Boom: Ujung semenanjung dengan pemandangan kapal rakyat.
Pantai Blimbingsari: Pantai timur dengan ombak kecil.
Pantai Cungkingan: Area memancing dengan tebing curam.
Pantai Pathek: Wisata pantai lokal yang masih alami.
Pantai Waru Doyong: Pesisir dengan vegetasi pantai yang rapat.
Pantai Kampe: Lokasi camping pinggir pantai yang ideal.
Pantai Muncar: Pelabuhan alami dengan ratusan kapal warna-warni.
Pantai Tanjung Pasir: Daratan pasir yang menyempit ke arah laut.
Pantai Kedung Derus: Area muara sungai yang kaya ekosistem.
Pantai Slopeng: Pantai pasir putih dengan bukit-bukit pasir kecil.
Pantai Teluk Banyu Biru: Perairan yang sangat tenang untuk free diving.
Sumber Gempong: Kolam mata air dengan latar gunung.
Sungai Badeng: Lokasi arung jeram dengan arus deras.
Sungai Kalibaru: Arus air yang menantang untuk tubing.
Pemandian Umbul Bening: Air tanah murni tanpa kaporit.
Pemandian Umbul Pule: Kolam di bawah rindangnya pohon purba.
Goa Bedil: Goa yang bisa dimasuki kapal saat laut tenang.
Goa Istana: Goa alami yang terbentuk dari struktur batuan hutan.
Goa Macan: Dinding goa yang menyerupai pola kulit macan.
Goa Padepokan: Goa lembap dengan stalaktit aktif.
Sumber Manis: Mata air yang muncul di tengah rimba purba.
Sungai Banyu Pait: Warna airnya kuning neon karena belerang.
Waduk Bajulmati: Kumpulan pulau kecil di tengah waduk.
Waduk Sidodadi: Area air tenang dengan vegetasi hijau.
Embung Estumulyo: Danau kecil di kaki gunung Raung.
Dam Limo: Struktur air jatuh yang menyerupai Niagara kecil.
Kali Bendo River: Sungai jernih yang membelah perkebunan kopi.
Mata Air Tamansuruh: Sumber air yang dingin dan menyegarkan.
Bukit Putih: Bukit kapur dengan pemandangan yang sangat cerah.
Tanjakan Cinta: Jalur mendaki dengan pemandangan savana luas.
Air Terjun Selogiri: Penutup petualangan yang sunyi di ujung selatan.
Dari 100 daftar sebelumnya, jika harus disaring menjadi yang paling ikonik dan wajib dikunjungi bagi pemula maupun petualang sejati, berikut adalah destinasi wisata alam terfavorit di Banyuwangi berdasarkan popularitas dan keunikannya:

Inilah magnet utama Banyuwangi. Fenomena Api Biru hanya ada dua di dunia (Banyuwangi dan Islandia). Selain itu, pemandangan kawah asam berwarna hijau toska saat matahari terbit adalah salah satu lanskap terindah di Indonesia.
Pernahkah kamu membayangkan berdiri di tepi kawah gunung berapi aktif pada jam 3 pagi, dikelilingi kabut belerang, sambil menatap api berwarna biru elektrik yang menari-nari di kegelapan? Fenomena Blue Fire di Kawah Ijen bukan sekadar pemandangan alam; ini adalah keajaiban kimia yang hanya ada dua di dunia (satunya lagi di Islandia!).
Bagi kamu yang berencana menaklukkan puncak Ijen, panduan ini akan mengupas tuntas segala hal yang perlu kamu siapkan—mulai dari logistik hingga tips bertahan di tengah asap belerang.
Sebelum berangkat, kamu harus tahu bahwa Ijen bukan gunung biasa.
Blue Fire: Ini bukan lava, melainkan gas sulfur yang keluar dari celah batuan pada suhu 600°C dan terbakar saat bertemu oksigen.
Danau Asam Terbesar: Di puncaknya terdapat danau berwarna toska cantik yang merupakan danau paling asam di dunia dengan pH mendekati 0.
Kearifan Lokal: Kamu akan menyaksikan langsung ketangguhan penambang belerang tradisional yang memikul beban hingga 90kg setiap harinya.
Jangan datang tanpa persiapan. Medan Ijen didominasi oleh pasir licin dan tanjakan curam.
Waktu Terbaik: Datanglah pada Mei – September (Musim Kemarau). Jalur pendakian lebih stabil dan peluang melihat api biru lebih besar karena langit cerah.
Kondisi Fisik: Minimal lakukan olahraga kardio (jogging) seminggu sebelum keberangkatan agar paru-paru dan kaki tidak “kaget”.
Cek Status: Pantau aplikasi Magma Indonesia. Jika aktivitas vulkanik meningkat, area kawah biasanya ditutup untuk umum.
Suhu di puncak bisa menyentuh 5°C. Salah kostum bisa berakibat hipotermia atau sesak napas.
Masker Respirator: Wajib bawa atau sewa. Masker medis tidak mempan menahan gas sulfur yang korosif.
Pakaian Berlapis: Gunakan teknik layering (kaos thermal, fleece/jaket bulu angsa, dan windbreaker).
Headlamp: Tanganmu harus bebas untuk berpegangan, jadi hindari menggunakan senter HP.
Sepatu Trekking: Pastikan sol sepatu memiliki grip yang kuat karena jalur turun ke kawah sangat berpasir dan licin.
Via Banyuwangi: Rute paling populer. Kamu bisa menyewa motor atau mobil Jeep dari pusat kota menuju Pos Paltuding (titik awal pendakian) dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.
Via Bondowoso: Jalur ini lebih landai namun jarak tempuhnya lebih jauh dari pusat kota. Cocok bagi kamu yang menyukai pemandangan perkebunan kopi sepanjang jalan.
| Komponen | Domestik | Mancanegara |
| Tiket Masuk (Weekday) | Rp30.000 | Rp150.000 |
| Tiket Masuk (Weekend) | Rp30.000 | Rp150.000 |
| Sewa Masker Gas | Rp25.000 | Rp50.000 |
| Jasa Guide (Lokal) | Rp250.000-350.000 | (Sama) |
| Troli (Ojek Ijen) | Rp1.000.000-1.500.000 | (Sama) |
23:30: Berangkat dari penginapan di Banyuwangi.
01:30: Tiba di Pos Paltuding, registrasi, dan sewa perlengkapan.
02:00: Pendakian dimulai. 2 km pertama adalah tanjakan paling berat dengan kemiringan 25-35 derajat.
03:30: Tiba di puncak, lalu turun ke bawah kawah (medan berbatu) selama 30 menit.
04:00: Menikmati fenomena Blue Fire.
05:30: Kembali ke atas untuk menyaksikan sunrise dan danau toska.
06:00: Turun kembali ke Paltuding.
Prioritaskan Penambang: Selalu berhenti dan beri jalan jika berpapasan dengan penambang belerang. Jangan menghalangi jalur mereka.
Jangan Membuang Apapun ke Danau: Meskipun airnya terlihat tenang, itu adalah asam pekat yang berbahaya bagi ekosistem.
Bawa Sampahmu Pulang: Ijen adalah cagar alam. Jangan tinggalkan jejak selain jejak kaki.
Perjalanan ke Kawah Ijen bukan sekadar wisata biasa, melainkan sebuah petualangan fisik dan spiritual. Melihat api biru menyala di tengah kegelapan akan membuatmu merasa betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.
Sudah siap mendaki? Jika ada pertanyaan tentang penginapan terdekat atau kontak sewa Jeep, silakan tanya di kolom komentar ya!

Destinasi ini menawarkan pengalaman unik berjalan di tengah Savana Bekol yang luas dengan latar belakang Gunung Baluran. Di sini, Anda bisa melihat banteng, rusa, dan merak yang berkeliaran bebas di alam liar.
Taman Nasional Baluran bukan sekadar hutan lindung. Dengan luas sekitar 25.000 hektar, tempat ini merupakan ekosistem hutan musim, hutan mangrove, dan savana yang menjadi rumah bagi ratusan spesies flora dan fauna. Di sini, kamu bisa melihat Banteng Jawa yang langka, burung merak yang memamerkan ekornya, hingga kawanan rusa yang berlari bebas dengan latar belakang Gunung Baluran.
Untuk mendapatkan foto estetik layaknya di Kenya atau Tanzania, pemilihan waktu sangat krusial:
Musim Kemarau (Juli – September): Rekomendasi utama. Rumput akan menguning sempurna dan tanah mulai retak, memberikan vibe Afrika yang sangat kuat. Satwa juga lebih mudah terlihat karena mereka akan berkumpul di sumber air.
Musim Hujan (Desember – Maret): Savana akan berubah menjadi hamparan hijau yang sangat segar. Udara lebih sejuk, namun beberapa jalur mungkin sedikit berlumpur.
Ikon utama Baluran. Di sini terdapat hamparan padang rumput yang luas. Pastikan kamu berhenti sejenak untuk memotret fosil tengkorak kepala banteng yang menjadi landmark ikonik tempat ini.
Naiklah ke menara pandang di area Bekol. Dari ketinggian ini, kamu bisa melihat panorama 360 derajat yang mencakup lautan biru, hutan hijau, dan savana kuning dalam satu bingkai.
Setelah panas-panasan di savana, berkendaralah ke ujung jalan menuju Pantai Bama. Pasir putihnya bersih dan airnya tenang. Jangan lupa berjalan menyusuri Mangrove Trail, sebuah jembatan kayu menembus hutan bakau yang berakhir dengan pemandangan laut lepas.
Berikut adalah rincian biaya yang perlu kamu siapkan:
Tiket Masuk Wisatawan Domestik: Rp21.000 (Weekdays) / Rp31.000 (Weekend).
Tiket Masuk Wisatawan Mancanegara: Rp150.000 (Weekdays) / Rp150.000 (Weekend).
Parkir Kendaraan: Motor (Rp5.000) / Mobil (Rp10.000).
Sewa Alat Snorkeling: Rp35.000 – Rp50.000 di Pantai Bama.
Agar liburanmu nyaman, perhatikan hal-hal berikut:
Pakaian: Gunakan bahan yang menyerap keringat. Pakailah topi dan kacamata hitam karena matahari di savana sangat terik.
Lotion Anti-Nyamuk & Sunblock: Wajib dibawa untuk melindungi kulit dari serangga hutan dan sinar UV.
Waspada Monyet Ekor Panjang: Di area Pantai Bama, monyet-monyet sangat aktif. Jangan membawa kantong plastik atau makanan di tangan secara terbuka karena mereka bisa merebutnya.
Bawa Air Minum: Tidak ada minimarket di dalam area savana, pastikan stok air minum di kendaraan cukup.
07:30: Berangkat dari Banyuwangi Kota.
08:30: Masuk Gerbang Batangan (Pintu Masuk Baluran).
09:00: Photo stop di Savana Bekol dan naik ke Menara Pandang.
11:00: Menuju Pantai Bama untuk makan siang dan istirahat.
13:00: Snorkeling atau Mangrove Trekking.
15:30: Perjalanan pulang (saat sore, satwa biasanya lebih aktif melintas di jalan utama).
Taman Nasional Baluran adalah destinasi yang sempurna bagi pecinta alam dan fotografi. Keindahannya yang kontras antara savana yang gersang dan pantai yang tenang memberikan pengalaman wisata yang berbeda dari biasanya.
Ingat: Jangan meninggalkan apapun selain jejak kaki, dan jangan mengambil apapun selain foto. Selamat berpetualang ke “Africa van Java”!
Hutan wisata yang berisi ratusan pohon Trembesi raksasa yang tertutup pakis. Suasananya sangat magis dan fotogenik, persis seperti latar film fantasi The Lord of the Rings.
Ini dia panduan blog lengkap untuk De Djawatan, hutan trembesi raksasa yang akan membuat pembaca merasa sedang berada di dunia Middle Earth karya J.R.R. Tolkien.
Pernahkah kamu membayangkan berjalan di bawah naungan pohon-pohon raksasa dengan dahan meliuk-liuk yang ditutupi tanaman pakis hijau? Jika ya, kamu tidak perlu terbang ke Selandia Baru untuk mencari lokasi syuting film The Lord of the Rings. Cukup datang ke De Djawatan, sebuah hutan wisata di Banyuwangi yang menawarkan atmosfer magis layaknya Hutan Fangorn.
Berikut adalah panduan lengkap eksploitasi De Djawatan untuk rencana liburanmu selanjutnya!
Terletak di Desa Benculuk, De Djawatan dulunya merupakan tempat penimbunan kayu jati milik Perhutani. Namun, daya tarik utamanya bukanlah jati, melainkan ratusan pohon Trembesi (Samanea saman) raksasa yang telah berdiri selama lebih dari satu abad.
Tanaman epifit atau pakis yang tumbuh subur di setiap batang pohon inilah yang memberikan kesan misterius, purba, sekaligus sangat fotogenik.
Agar mendapatkan hasil foto yang maksimal, pemilihan jam kunjungan sangat penting:
Golden Hour (Pagi & Sore): Datanglah pada pukul 07.00 – 09.00 atau 15.30 – 17.00. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dahan akan menciptakan efek Ray of Light (TYNDALL) yang dramatis.
Musim Hujan: Hutan ini justru terlihat paling cantik saat musim hujan karena tanaman pakis di batang pohon akan berwarna hijau segar (tidak kering/cokelat).
Jangan hanya sekadar berfoto, ada banyak cara menikmati hutan ini:
Spot Foto Ikonik: Ada banyak dek kayu dan ayunan yang dibangun khusus untuk sudut pengambilan gambar terbaik.
Keliling dengan Dokar: Kamu bisa menyewa dokar (kereta kuda) untuk berkeliling kawasan hutan tanpa merasa lelah.
Wisata Kuliner Lokal: Di sekitar area hutan, banyak pedagang yang menjual makanan khas Banyuwangi seperti Rujak Soto atau Es Kelapa Muda.
Piknik Santai: Area ini sangat ramah keluarga. Banyak pengunjung membawa tikar untuk sekadar duduk menikmati udara segar di bawah pohon.
De Djawatan berlokasi di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.
Dari Pusat Kota Banyuwangi: Berjarak sekitar 30-35 km atau 1 jam perjalanan darat.
Rute: Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi (motor/mobil) atau angkutan umum jurusan Jajag/Genteng dan turun tepat di pertigaan Benculuk.
Liburan ke sini sangat ramah di kantong:
Tiket Masuk: Rp7.500 – Rp10.000 per orang.
Parkir Motor: Rp2.000.
Parkir Mobil: Rp5.000.
Sewa Dokar: Rp20.000 – Rp50.000 (tergantung rute).
Warna Baju: Gunakan pakaian dengan warna yang kontras dengan hijau hutan, seperti merah, kuning, atau putih, agar subjek foto lebih menonjol.
Lensa Wide: Gunakan lensa lebar agar seluruh kemegahan pohon trembesi bisa tertangkap dalam satu bingkai.
Sudut Rendah (Low Angle): Mengambil foto dari bawah akan membuat pohon-pohon terlihat jauh lebih raksasa dan megah.
Do: Menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
Don’t: Memanjat pohon atau merusak tanaman paku yang menempel di batang, karena itulah yang menjadi kunci kecantikan hutan ini.
Don’t: Datang terlalu mepet waktu tutup (pukul 17.00) karena pencahayaan di dalam hutan akan meredup sangat cepat.
De Djawatan adalah bukti bahwa keajaiban dunia tidak selalu harus mahal. Dengan tiket yang sangat murah, kamu bisa merasakan suasana magis layaknya di film fantasi kelas dunia. Destinasi ini sangat cocok bagi kamu yang ingin healing sejenak dari hiruk-pikuk kota.

Pantai terfavorit untuk menikmati matahari terbenam (sunset). Ikon utamanya adalah sebuah bukit kecil di tengah laut dengan tanah kemerahan yang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki saat air laut surut.
Jika Bali punya Kuta, maka Banyuwangi punya Pulau Merah (Red Island). Terkenal dengan sebuah bukit kecil di tengah laut yang tanahnya berwarna kemerahan, pantai ini telah menjadi magnet bagi peselancar dunia maupun wisatawan keluarga.
Keunikan geografisnya yang menghadap langsung ke Samudera Hindia menjadikannya salah satu tempat terbaik di Pulau Jawa untuk menikmati detik-detik matahari tenggelam. Berikut adalah panduan lengkap untuk trip kamu ke Pulau Merah!
Ada dua versi menarik di balik namanya:
Warna Tanah: Jika kamu mendekati bukit kecil setinggi 200 meter yang ada di depan pantai, kamu akan melihat tanahnya yang berwarna kemerahan.
Fenomena Sunset: Saat sore hari, sinar matahari yang terbenam seringkali memantulkan warna kemerahan pada pasir dan air di sekitar pantai, menciptakan pemandangan yang magis.
Pecinta Sunset: Datanglah pada pukul 15.30 – 18.00. Ini adalah waktu di mana langit mulai berubah warna dan suhu udara menjadi lebih sejuk.
Peselancar: Bulan Mei hingga Desember adalah waktu terbaik karena ombak sedang stabil dengan ketinggian mencapai 2 hingga 5 meter.
Saat Air Surut: Pada sore hari saat air laut surut, kamu bahkan bisa berjalan kaki mendekati bukit Pulau Merah tanpa harus berenang.
Surfing (Berselancar): Berbeda dengan Pantai G-Land yang ombaknya ganas untuk profesional, Pulau Merah memiliki dasar laut berpasir (bukan karang tajam), sehingga sangat aman bagi pemula yang ingin belajar surfing.
Berjemur & Santai: Kamu bisa menyewa kursi pantai dengan payung warna-warni sambil menikmati kelapa muda segar.
Wisata Kuliner: Jangan lewatkan mencicipi Pindang Koyong atau ikan bakar segar yang dijual di warung-warung sekitar pantai.
Hunting Foto: Spot di depan bukit Pulau Merah saat matahari terbenam adalah salah satu foto wajib untuk feed Instagram kamu.
Pantai Pulau Merah terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Dari Pusat Kota Banyuwangi: Berjarak sekitar 60-70 km dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.
Rute: Jalur menuju ke sana sudah mulus. Kamu bisa menggunakan mobil pribadi, motor, atau menyewa mobil travel. Jalurnya searah dengan rute menuju De Djawatan, jadi kamu bisa mengunjungi kedua tempat ini dalam satu hari.
Tiket Masuk: Rp10.000 per orang.
Parkir Motor: Rp2.000 – Rp5.000.
Parkir Mobil: Rp10.000.
Sewa Papan Selancar: Rp50.000 per jam.
Sewa Kursi Pantai: Rp20.000 – Rp50.000 (sepuasnya).
Pakaian: Bawa baju ganti, sunblock, dan kacamata hitam.
Keamanan: Selalu perhatikan bendera pembatas di pantai. Jangan berenang terlalu jauh jika ombak sedang tinggi, terutama di area yang ditandai sebagai zona berbahaya.
Kebersihan: Pulau Merah sangat dijaga kebersihannya. Pastikan kamu membuang sampah pada tempat yang disediakan.
Jika kamu ingin maksimal, gunakan rute ini:
09.00: Berangkat dari Banyuwangi Kota.
10.30: Eksplorasi De Djawatan (Hutan Lord of the Rings).
13.00: Makan siang di daerah Jajag/Pesanggaran.
14.30: Tiba di Pulau Merah, santai, atau belajar surfing.
17.30: Menikmati Sunset.
18.30: Perjalanan pulang ke kota.
Pulau Merah adalah destinasi yang lengkap. Ia menawarkan adrenalin bagi peselancar, ketenangan bagi pecinta senja, dan keceriaan bagi keluarga. Keindahan bukit di tengah lautnya adalah ikon yang tidak akan kamu temukan di pantai lain di Indonesia.
Ketiga destinasi ini (Green Island/Pulau Mustaka, Pulau Bedil, dan Pantai Wedi Ireng) berada di satu jalur yang sama di area Pancer, Pesanggaran. Ini adalah paket island hopping yang paling “Sultan” di Banyuwangi karena suasananya sangat eksklusif dan sepi.
Berikut adalah panduan lengkap untuk blog atau rencana perjalananmu:
Jika kamu bosan dengan keramaian, saatnya bergeser ke arah selatan Banyuwangi. Di sini ada rute rahasia menggunakan perahu nelayan yang akan membawamu ke tiga spot yang vibes-nya mirip sekali dengan Raja Ampat atau Phi Phi Island di Thailand.
Banyak orang lokal menyebutnya Pulau Mustaka, tapi belakangan populer dengan nama Green Island karena airnya yang hijau bening di sekitar formasi batuan karang.
Daya Tarik: Airnya sangat tenang dan sangat jernih. Ini adalah spot terbaik untuk snorkeling atau sekadar berenang santai di atas pasir putih yang tenggelam.
Vibe: Seperti kolam renang pribadi di tengah laut yang dikelilingi tebing hijau.
Pulau ini sebenarnya adalah gugusan pulau karang kecil yang tidak berpenghuni.
Daya Tarik: Ada lorong gua kecil di bawah tebing yang bisa dilewati perahu saat air tenang. Formasi tebing karang yang tegak lurus dengan pepohonan di atasnya sangat mirip dengan pemandangan di Maya Bay, Thailand.
Aktivitas: Spot foto wajib. Biasanya nelayan akan mematikan mesin perahu agar kamu bisa berfoto dengan latar belakang tebing yang megah dan air yang biru toska.
Namanya berarti “Pasir Hitam”, tapi uniknya pantai ini justru memiliki hamparan pasir putih yang sangat halus. Pasir hitamnya hanya terselip di lapisan bawahnya saja.
Daya Tarik: Pantai ini berbentuk seperti teluk yang terlindungi, sehingga ombaknya sangat tenang—berbeda jauh dengan Pantai Pulau Merah yang ombaknya besar.
Aktivitas: Di sini kamu bisa makan siang (biasanya ada warung lokal sederhana yang buka), bermain ayunan di pinggir pantai, atau trekking kecil ke bukit di sekelilingnya untuk melihat view dari ketinggian.
Untuk mengunjungi ketiga tempat ini, kamu harus menyewa perahu dari Pantai Pancer (terletak tepat di sebelah Pantai Pulau Merah).
Sewa Perahu (Paket 3 Lokasi): Rp400.000 – Rp600.000 (kapasitas hingga 6-8 orang). Harganya flat per perahu, jadi makin banyak teman, makin murah.
Durasi Trip: Sekitar 3–4 jam.
Waktu Terbaik: Berangkat pukul 08.00 pagi saat angin masih tenang. Jika sudah lewat jam 1 siang, ombak selatan biasanya mulai besar dan perahu akan sulit merapat ke Green Island.
Titik Start: Jangan berangkat dari Pulau Merah, tapi dari Dermaga Nelayan Pancer. Lebih dekat dan lebih murah.
Bawa Alat Snorkeling: Nelayan biasanya hanya menyediakan perahu, jarang yang menyediakan alat snorkeling lengkap. Sebaiknya sewa di kota atau bawa sendiri.
Pakaian: Gunakan celana pendek atau kain pantai, karena kamu akan naik-turun perahu di pinggir pantai (pasti basah sampai lutut).
Keamanan: Selalu pakai life jacket yang disediakan nelayan, karena jalur ini melewati laut selatan yang arusnya cukup kuat.
Rute Green Island – Pulau Bedil – Wedi Ireng adalah jawaban buat kamu yang ingin konten foto yang “beda” dari orang kebanyakan di Banyuwangi. Ini adalah sisi liar dan eksotis Banyuwangi yang masih sangat alami.

Salah satu pantai paling “perawan” di Banyuwangi. Airnya berwarna hijau emerald jernih dengan pasir putih yang sangat halus. Lokasinya tersembunyi di dalam Taman Nasional Meru Betiri, memberikan kesan eksklusif dan tenang.
Ini dia panduan ke Teluk Hijau (Green Bay), permata tersembunyi di Banyuwangi yang sering dijuluki sebagai “Surga yang Tersembunyi” karena lokasinya yang cukup terpencil di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri.
Jika kamu mencari pantai dengan air yang benar-benar jernih, pasir seputih susu, dan suasana yang tenang jauh dari hiruk pikuk kota, maka Teluk Hijau adalah jawabannya. Berbeda dengan pantai lain di Banyuwangi, Teluk Hijau menawarkan gradasi warna air dari hijau turunan hingga biru samudra yang sangat memukau.
Tersembunyi di dalam Taman Nasional Meru Betiri, perjalanan menuju ke sini adalah sebuah petualangan tersendiri. Inilah panduan lengkap untuk mengeksplorasi Teluk Hijau!
Sesuai namanya, warna air laut di teluk ini cenderung berwarna hijau jernih saat terkena sinar matahari. Hal ini disebabkan oleh adanya alga di dasar laut yang memantulkan warna hijau ke permukaan air yang sangat dangkal dan bening. Kontras antara air hijau, pasir putih, dan hutan hijau di sekelilingnya membuat tempat ini terasa seperti pantai pribadi.
Ada dua cara untuk mencapai pantai ini dari titik pemberhentian terakhir di Rajegwesi:
Jalur Darat (Trekking): Kamu harus berjalan kaki sekitar 1 km menembus hutan rimba. Medannya cukup menantang dengan tanjakan dan turunan bebatuan. Namun, kamu akan melewati Pantai Batu yang unik sebelum sampai di Teluk Hijau.
Jalur Laut (Perahu): Kamu bisa menyewa perahu nelayan dari Pantai Rajegwesi. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Ini adalah opsi terbaik jika kamu ingin melihat kemegahan tebing-tebing Meru Betiri dari tengah laut.
Sebelum sampai di pasir putih Teluk Hijau, kamu akan menemukan dua keunikan ini:
Pantai Batu: Pantai yang seluruh permukaannya terdiri dari batu koral halus tanpa pasir. Deburan ombak yang menghantam batu menciptakan suara yang sangat menenangkan.
Air Terjun Air Tawar: Terdapat air terjun setinggi 8 meter tepat di pinggir pantai Teluk Hijau. Ini sangat unik karena setelah berenang di air laut yang asin, kamu bisa langsung membilas diri di air terjun yang tawar dan dingin ini.
Tiket Masuk (TN Meru Betiri): Rp5.000 – Rp7.500 (Domestik).
Sewa Perahu PP: Sekitar Rp35.000 – Rp50.000 per orang (tergantung jumlah penumpang).
Parkir Kendaraan: Rp5.000 – Rp10.000.
Jangan Datang Sore Hari: Karena lokasinya di dalam hutan dan akses perahu tergantung ombak, sebaiknya kamu sudah meninggalkan lokasi sebelum pukul 15.00 WIB.
Waspada Monyet: Sama seperti di Baluran, monyet di sini cukup berani. Jangan menaruh tas berisi makanan tanpa pengawasan.
Bawa Bekal Sendiri: Di Teluk Hijau tidak ada warung permanen seperti di Pulau Merah atau Baluran. Pastikan bawa makanan dan minuman, tapi wajib bawa pulang sampahnya.
Gunakan Sepatu/Sandal Gunung: Jika memilih jalur trekking, jangan pakai sandal jepit biasa karena medannya licin dan berbatu.
| Fitur | Via Perahu | Via Trekking |
| Waktu | Cepat (15 Menit) | Sedang (30-45 Menit) |
| Pemandangan | Tebing & Laut Lepas | Hutan & Pantai Batu |
| Tingkat Lelah | Rendah | Cukup Tinggi |
| Kondisi | Tergantung Ombak | Tergantung Cuaca (Licin) |
Teluk Hijau adalah destinasi bagi mereka yang mencintai petualangan dan privasi. Keindahannya yang masih alami menjadikannya tempat “pelarian” yang sempurna. Jika kamu punya waktu lebih, kamu juga bisa sekalian mengunjungi Pantai Sukamade yang searah untuk melihat penyu bertelur di malam hari.

Ini adalah destinasi puncak bagi para petualang sejati. Pantai Sukamade bukan sekadar tempat wisata pantai biasa; ini adalah “hutan rimba” di mana kamu bisa menyaksikan siklus kehidupan purba secara langsung.
Berada jauh di dalam Taman Nasional Meru Betiri, Sukamade dikenal sebagai salah satu tempat pendaratan penyu paling konsisten di dunia.
Jika Teluk Hijau adalah “surga yang tersembunyi”, maka Sukamade adalah “surga yang terisolasi”. Tidak ada sinyal ponsel, tidak ada listrik sepanjang hari, yang ada hanyalah suara deburan ombak Samudera Hindia dan kicauan burung hutan tropis.
Berikut adalah panduan lengkap untuk pengalaman menginap yang tak terlupakan di Sukamade.
Sukamade adalah habitat peneluran bagi empat jenis penyu, yang paling sering ditemui adalah Penyu Hijau. Hampir setiap malam sepanjang tahun, penyu-penyu raksasa naik ke daratan untuk meletakkan telur-telurnya.
Atmosfer: Kamu akan diajak berkeliling pantai pada tengah malam dalam kegelapan total untuk menjaga ketenangan sang penyu.
Konservasi: Selain melihat penyu bertelur, kamu juga bisa melepasliarkan bayi penyu (tukik) ke laut pada pagi harinya.
Menuju Sukamade adalah tantangan fisik. Dari pusat kota Banyuwangi, perjalanan memakan waktu sekitar 4-5 jam.
Off-Road: Kamu akan melewati jalanan berbatu, hutan lebat, hingga menyeberangi sungai menggunakan mobil Jeep/4WD.
Kendaraan: Sangat tidak disarankan menggunakan mobil biasa atau motor matic. Pilihan terbaik adalah menyewa Jeep khusus dari agen wisata lokal.
Observasi Penyu (Malam Hari): Sekitar pukul 20.00, kamu akan dipandu oleh ranger taman nasional menuju pantai. Jika beruntung, kamu bisa melihat penyu berukuran hampir 1 meter sedang menggali lubang dan bertelur.
Pelepasan Tukik (Pagi Hari): Pukul 06.00 pagi, kamu bisa ikut melepaskan anak-anak penyu ke laut lepas. Ini adalah momen emosional dan sangat fotogenik.
Wisata Perkebunan: Sebelum sampai di pantai, kamu akan melewati Perkebunan Sukamade yang menghasilkan karet, cokelat, dan kopi. Kamu bisa melihat proses pengolahannya di pabrik peninggalan Belanda.
Karena lokasinya yang ekstrem, biayanya sedikit lebih mahal dibanding destinasi lain:
Sewa Jeep (Kapasitas 4-5 orang): Rp1.500.000 – Rp2.000.000 (PP dari Banyuwangi, termasuk driver & bensin).
Tiket Masuk: Rp5.000 – Rp7.500 (Domestik).
Donasi Pelepasan Tukik: Sukarela (biasanya sekitar Rp20.000 – Rp50.000).
Jasa Ranger: Sekitar Rp100.000 – Rp200.000 per grup.
Di sini hanya tersedia Mess Pantai Sukamade atau Camping Ground.
Fasilitas: Sangat terbatas. Listrik hanya menyala pukul 18.00 – 22.00 menggunakan genset. Jangan harap ada AC atau air panas. Namun, inilah esensi dari petualangan Sukamade!
Etika Observasi: Dilarang menyalakan senter (kecuali atas izin ranger) dan dilarang menyalakan flash kamera saat penyu sedang bertelur karena mereka sangat sensitif terhadap cahaya.
Logistik Pribadi: Bawa power bank ekstra, obat nyamuk oles, dan camilan karena warung di sini sangat terbatas.
Pakaian: Bawa pakaian hangat untuk malam hari dan sepatu yang nyaman untuk berjalan di pasir pantai yang basah.
Sukamade bukan tempat untuk semua orang. Tempat ini hanya untuk mereka yang siap lelah, siap kotor, dan siap terputus dari dunia luar demi menyaksikan keajaiban alam. Tapi percayalah, saat kamu melihat seekor penyu raksasa meneteskan air mata saat bertelur, semua lelahmu akan terbayar lunas.

Dua pulau ini adalah surga bagi pencinta snorkeling dan diving. Pulau Tabuhan memiliki pasir putih kristal tanpa penghuni, sementara Pulau Menjangan terkenal dengan dinding terumbu karangnya yang spektakuler.
Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan adalah dua destinasi favorit untuk aktivitas island hopping karena keduanya bisa dikunjungi sekaligus dalam satu hari trip dari Banyuwangi. Meskipun lokasinya berbeda provinsi (Jawa Timur dan Bali), akses dari Banyuwangi justru sering dianggap lebih mudah.
Berikut adalah panduan lengkap untuk mengeksplorasi kedua pulau tersebut:
Pulau kecil tak berpenghuni di tengah Selat Bali ini terkenal dengan pasir putihnya yang bersih dan air yang sangat jernih.
Aktivitas Utama: Snorkeling di pinggir pantai, berjalan kaki keliling pulau (hanya butuh 15-20 menit), dan berfoto dengan latar belakang pegunungan Ijen atau Bali Barat.
Keunikan: Kecepatan angin yang stabil menjadikannya lokasi populer untuk kitesurfing.
Biaya: Tidak ada tiket masuk resmi (gratis). Biaya utama adalah sewa perahu nelayan (Rp400.000 – Rp800.000 per kapal untuk 10 orang) dan sewa alat snorkeling (Rp30.000 – Rp50.000).
Terletak di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), pulau ini adalah salah satu spot snorkeling dan diving terbaik di Bali.
Aktivitas Utama: Wall diving atau snorkeling di tebing bawah laut yang curam, melihat rusa liar (Menjangan) di pinggir pantai, dan mengunjungi beberapa pura ikonik seperti Pura Ganesha.
Keunikan: Keanekaragaman terumbu karang yang sangat terjaga dan pemandangan “dinding” bawah laut yang dramatis.
Biaya Tiket Masuk (Domestik): Sekitar Rp15.000 – Rp30.000 (hari biasa/libur). Untuk WNA, tiket masuk jauh lebih mahal (sekitar Rp200.000 – Rp330.000).
Sangat disarankan untuk mengambil paket Open Trip atau Private Trip gabungan untuk menghemat biaya dan waktu.
Titik Kumpul: Biasanya di Pantai Grand Watu Dodol (GWD) atau Bangsring Underwater.
Estimasi Harga Open Trip: Sekitar Rp275.000 – Rp320.000 per orang, sudah termasuk:
Sewa kapal PP ke dua pulau.
Makan siang (lunch box).
Alat snorkeling & pelampung.
Dokumentasi underwater.
Tiket masuk destinasi.
08.00: Berkumpul di Pantai Grand Watu Dodol.
08.30: Menyeberang ke Pulau Menjangan (±45 menit).
09.30: Snorkeling di 2 spot (biasanya Coral Garden & Eel Garden).
12.00: Makan siang di dermaga atau pantai Pulau Menjangan.
13.30: Menuju Pulau Tabuhan.
14.00: Eksplorasi Pulau Tabuhan (foto-foto & main air).
15.00: Kembali ke daratan utama.
“Pengalaman luar biasa! Snorkeling di Menjangan ikannya bagus banget, karangnya sehat. Terus mampir ke Tabuhan airnya jernih toska, pasirnya putih banget. Cocok buat yang mau trip singkat tapi puas.” — Ulasan Wisatawan.
Persiapan Wajib: Bawa baju ganti, sunblock, handuk, dan pastikan baterai kamera/HP penuh untuk mengabadikan momen di bawah air!
Inilah jantung alam liar Banyuwangi. Alas Purwo bukan hanya tentang mistis, tapi juga tentang kekayaan flora dan fauna. Destinasi wajib di sini adalah Savana Sadengan untuk melihat kawanan banteng liar, serta Pantai Plengkung (G-Land) yang memiliki salah satu ombak terbaik di dunia bagi para peselancar profesional.
Ini adalah penutup petualangan yang sempurna. Jika Baluran adalah “Africa van Java”, maka Alas Purwo adalah jantungnya hutan Jawa yang sebenarnya—penuh misteri, sejarah, dan keindahan alam yang masih sangat liar.
Terletak di ujung tenggara Pulau Jawa, Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah satu hutan tertua di Indonesia. Berikut adalah panduan lengkap untuk mengeksplorasi sisi magis Alas Purwo.
Alas Purwo bukan hanya tentang hutan lebat. Di sini, kamu akan menemukan perpaduan antara wisata religi (situs kerajaan), padang savana, hingga pantai dengan ombak terbaik bagi peselancar dunia. Inilah panduan lengkap untuk “masuk” ke dalam keasrian Alas Purwo.
Mirip dengan Bekol di Baluran, tapi dengan suasana yang lebih rimbun dan hijau.
Aktivitas: Mengamati Banteng Jawa, Rusa, Merak, dan Babi Hutan dari menara pandang.
Waktu Terbaik: Sore hari sekitar pukul 15.00 – 17.00 saat satwa keluar untuk mencari makan.
Salah satu spot surfing terbaik di dunia yang sejajar dengan Hawaii dan Afrika Selatan.
Keunikan: Memiliki “Seven Giant Waves”, yaitu ombak yang bisa mencapai ketinggian 6–8 meter dengan panjang gulungan hingga 2 km.
Dua pantai dengan pasir putih yang sangat bersih dan suasana yang tenang.
Keunikan: Di Pantai Pancur terdapat aliran sungai air tawar yang langsung menuju laut (mirip air terjun kecil di pinggir pantai). Lokasi ini juga sering dijadikan tempat berkemah.
Alas Purwo terkenal sebagai tempat meditasi. Kamu bisa mengunjungi Situs Kawitan (peninggalan Kerajaan Majapahit) atau goa-goa seperti Goa Padepokan dan Goa Istana.
Terletak di Kecamatan Tegaldlimo, sekitar 2 jam perjalanan (60-70 km) dari pusat kota Banyuwangi.
Akses: Jalanan sudah sangat bagus (aspal mulus) hingga ke dalam kawasan hutan. Kamu bisa menggunakan motor atau mobil pribadi.
Sewa Kendaraan: Jika ingin ke G-Land, biasanya wisatawan menggunakan jasa transportasi khusus (mobil 4WD/trooper) dari pos Pancur karena medannya berpasir dan berbatu.
Tiket Masuk (Domestik): Rp20.000 (Weekdays) / Rp30.000 (Weekend).
Tiket Masuk (Mancanegara): Rp150.000 / Rp200.000.
Sewa Transportasi Internal (ke G-Land): Sekitar Rp250.000 per jeep.
Alas Purwo sangat kental dengan nilai adat dan kepercayaan lokal.
Jaga Lisan & Sikap: Menghormati adat setempat sangat disarankan. Hindari berbicara sembarangan atau bernada sombong selama di dalam hutan.
Hindari Memakai Baju Hijau (Khusus Pantai Selatan): Ini adalah mitos yang sangat dihormati warga lokal untuk menghormati Nyi Roro Kidul. Sebaiknya gunakan warna lain agar lebih aman dan menghargai warga.
Waspada Satwa Liar: Jangan memberi makan monyet atau hewan apapun. Simpan barang bawaanmu dengan rapi di dalam mobil atau tas yang tertutup rapat.
Bawa Bekal: Warung makan hanya tersedia di area gerbang masuk dan Pos Pancur. Jika masuk lebih dalam, bawalah air minum dan camilan sendiri.
08.00: Berangkat dari Banyuwangi.
10.00: Masuk gerbang Alas Purwo, mampir ke Situs Kawitan.
11.00: Menjelajah Pantai Trianggulasi dan makan siang di Pantai Pancur.
13.30: Menuju G-Land (Plengkung) untuk melihat para peselancar dunia beraksi.
15.30: Singgah di Savana Sadengan untuk melihat banteng dan rusa.
17.00: Perjalanan pulang ke kota.
Alas Purwo adalah destinasi bagi mereka yang ingin merasakan energi murni dari bumi. Tempat ini memberikan keseimbangan antara petualangan ekstrem, keindahan alam yang tak tersentuh, dan kedamaian spiritual.
Menjelajahi 100 destinasi alam Banyuwangi mungkin terasa menantang bagi Anda yang baru pertama kali berkunjung. Medan yang beragam—mulai dari jalur off-road menuju Sukamade, pendakian dini hari di Ijen, hingga penyeberangan laut ke Green Island—membutuhkan perencanaan yang presisi dan logistik yang handal.
Jangan biarkan kerumitan rencana perjalanan menghalangi semangat petualangan Anda. Adventurer.co.id hadir sebagai partner perjalanan resmi yang siap membawa Anda menaklukkan setiap sudut eksotis The Sunrise of Java dengan aman dan nyaman.
Open Trip Banyuwangi (Hemat & Seru):
Ingin menjelajahi Ijen, Baluran, hingga Pulau Merah dengan biaya lebih terjangkau? Bergabunglah dalam Open Trip kami! Bertemu dengan teman baru sesama pecinta alam dan nikmati fasilitas lengkap mulai dari transportasi, tiket masuk, hingga dokumentasi profesional.
Private Trip Banyuwangi (Eksklusif & Fleksibel):
Menginginkan privasi lebih atau punya daftar destinasi custom seperti Sukamade, Green Island, dan Wedi Ireng? Private Trip kami adalah solusinya. Anda bebas menentukan jadwal, durasi di setiap destinasi, dan menikmati layanan kendaraan premium (termasuk Jeep 4×4) khusus untuk rombongan Anda.
Local Expertise: Kami memahami setiap jengkal jalur tikus dan waktu terbaik di setiap destinasi.
Safety First: Pemandu bersertifikat dan standar keamanan perlengkapan yang terjamin.
Hassle & Worry Free: Terima beres! Kami mengurus perizinan Taman Nasional, alat snorkeling, hingga masker respirator Ijen untuk Anda.
Cek Jadwal Open Trip, Penawaran Private Trip Banyuwangi &Paket Outing Banyuwangi kami di adventurer.co.id